Categorized | Best Practice

Si Venture Capitalist, Reid Hoffman

Si Venture Capitalist, Reid Hoffman

CEO LinkedIn, Reid Hoffman, sudah mendirikan situs jejaring sosial pertamanya, SocialNet, sebelum Mark Zuckerberg masuk SMA. Untuk itulah karya bos LinkedIn ini disebut pelopor jejaring sosial pada masanya. Venture capitalist berusia 44 tahun dan dikenal sebagai “si penghubung” di Silicon Valley ini, telah menginvestasikan uangnya ke 114 startup sejak 1995.

Startup yang dibiayainya bukan sembarangan, nama-nama seperti Facebook, Flickr, Groupon dan Zynga ada dalam daftar perusahaan yang pernah ditanganinya, baik dengan dirinya langsung maupun dengan partner lain dalam Greylock Partners.

Perusahaan pertama yang sukses berkat investasinya adalah PayPal. Di perusahaan ini, Hoffman menjadi tim eksekutif dan menghasilkan jutaan dolar sebelum akhirnya dibeli eBay pada 2002. Hoffman juga salah satu pendiri LinkedIn, situs jejaring sosial untuk para profesional, yang telah digunakan 100 juta pengguna dan market cap sebesar US$ 8 miliar setelah IPO mereka sukses besar. 

Pria tambun ini jarang mengabiskan akhir pekannya untuk liburan, justru pada waktu itu Hoffman  sibuk menggali ide bersama para pengusaha muda. Hoffman percaya jejaring sosial akan menjadi platform dominan sehingga ia bersegera membangun aplikasi dan layanan baru baik sekarang maupun nanti saat Web 3.0 akan datang. Hoffman melihat tren bahwa orang tidak akan keberatan saat data pribadi akan diketahui umum. Masalah privasi hanyalah masalah ‘orang jaman dulu’ katanya.

Si PenghubungMengingat Sillicon Valley seperti rumah keduanya, Hoffman sangat dikenal di sana. Sehingga hobinya—membimbing bakat startup baru—tersalurkan. Menurutnya keadaan Sillicon Valley saat ini dalam kecepatan penuh. Banyak sekali venture yang mau memberikan investasi baru startup baru dan lebih banyak lagi startup bermunculan.

Bagi Hoffman ada dua tipe pengusaha startup. Pertama, generasi muda yang tumbuh bersama internet dan perangkat mobile. Mereka biasanya membangun produk atas dasar pemikiran bahwa produk tersebut dibutuhkan mereka dan orang lain. Keakraban yang tumbuh dengan internet ini membuat mereka menciptakan sesuatu yang baru, sesuatu di luar ekosistem.

Kedua adalah para generasi web 1.0 yang mempelajari apa yang salah dari internet bubble pertama dan mencoba membangun startup lagi. Mungkin saja nama besar Mark Zuckerberg masuk kategori yang pertama. Tetapi di kategori kedua tidak kalah tenar. Lihat saja Mark Pincus di Zynga, Ev William di Twitter, dan Tim Westergren di Pandora. Dan Pandora adalah salah satu dari sedikit perusahaan yang berhasil melewati tech bubble pertama dan masih bisa bertahan hingga sekarang.

Saat Hoffman mengevaluasi rencana bisnis dari para startup di Greylock, dia cenderung melihat pengusahanya, seberapa besar minatnya untuk belajar dan terjun ke dunia bisnis teknologi. Menurutnya produk yang bagus akan dihasilkan oleh orang-orang macam itu. Hoffman mencontohkan bahwa CEO Apple, Steve Jobs, adalah salah satu yang terbaik. Karena Jobs mampu ‘mengalahkan’ musuh bebuyutannya, Microsoft.

Kualitas yang dicari Hoffman adalah pengusaha yang mempunyai visi. Ketika bisnis seseorang masih berupa ide, hanya orang yang memiliki visi saja yang bisa mewujudkan idenya. Ini lah membedakan ia dengan orang yang hanya berangan-angan tanpa dasar yang jelas. Jadi Hoffman selalu memberikan investasi kepada orang yang memiliki visi.

Hoffman mencontohkan saat ia melihat konsep Twitter pertama kali. Tentu saja ia tidak tahu Twitter akan berhasil atau tidak, apalagi hanya 140 karakter. Tapi karena Twitter dengan cerdas memanfaatkan para selebritas, Twitter langsung melesat ke arah kesusksesan. Tetapi tentu saa Hoffman juga melihat apakah produk yang diajukan bisa menghasilkan jutaan pengguna.

Jejaring SosialSocial networks do best when they tap into one of the seven deadly sins. Facebook is ego. Zynga is sloth. LinkedIn is greed” ujar Hoffman saat ditanya mengapa situs jejaring sosial amat populer di dunia dan bahwa jejaring sosial adalah salah satu bisnis yang bisa mengasilkan jutaan pengguna.

Menurut Hoffman, Facebook merefleksikan ego karena orang cenderung sombong ketika menampilkan diri mereka ke teman. Tapi itu adalah rasa saling terhubung.  Zynga juga ada karena kesenangan. Lebih baik mencari kesenangan dalam 10-15 menit dengan teman daripada menonton televisi lewat Zynga. Sedangkan LinkedIn mengambil alih takdir mata pencaharian orang dan meningkatkan rasa profesional serta mengembangkan jaringan.

Meskipun jejaring sosial akan tetap memimpin hingga jaman web 3.0 datang. Hoffman mengingatkan bahwa penting bagi seseorang untuk mengerti ada tiga jenis data. Data eksplisit, yaitu data yang dapat disebutkan dalam profil. Data implisit adalah data yang dibuat saat online. Terakhir adalah data analisis yang  merupakan gabungan implisit dan eksplisit. Di LinkedIn sendiri Hoffman menggunakan data analisis.