Antara Unyil, Spongebob, dan Si Kabayan
June 4, 2009 by ria
“Mari tertawa ha..ha..ha..ha..,” begitu cuplikan sedikit dialog dalam cerita singkat yang dibawakan Pak Raden, salah satu tokoh dalam serial Si Unyil. Pak Raden atau nama aslinya Drs. Suyadi memperkenalkan masing-masing karakter cerita Si Unyil dalam Seminar Telematika yang digelar Departemen Perindustrian, Kamis (04/06), di Jakarta. Sambil membawa boneka tersebut, ia juga menjelaskan karakter wajah dan sikap dari masing-masing tokoh.
Si Unyil adalah salah satu serial televisi yang pernah populer di Indonesia. Karakter dan tokohnya bahkan masih digunakan dalam beberapa acara televisi saat ini. Hal ini, menurut Suyadi, adalah bagian dari pendalaman karakter yang memang khas bagi bangsa Indonesia. Si Unyil berhasil menampilkan sosok anak Indonesia asli dengan latar belakang budaya Indonesia. Inilah hal yang dibutuhkan dalam bidang animasi di negeri ini.
Menurut Denny A.Djoenaid, Ketua Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia (AINAKI), masyarakat Indonesia saat ini terbiasa dengan animasi produk luar. Bahkan animasi buatan luar tersebut sangat digemari oleh anak-anak Indonesia, termasuk karakter dan tokoh-tokohnya. Sebut saja Spongebob, Avatar, dan Shin Chan, jauh lebih terkenal dibandingkan dengan Gatotkaca, Kabayan, atau tokoh-tokoh animasi dalam negeri lainnya.
“Animasi adalah induk dari industri kreatif. Karena bisa membuat film, konten, merchandise, komik, games, dan lain-lain,” tutur Denny. Menurutnya, sebuah karakter animasi yang sukses dalam penayangan serial TV akan mendatangkan keuntungan yang berlipat ganda. Namun, sayangnya belum ada film serial animasi produksi dalam negeri yang ditayangkan terus menerus di stasiun TV Indonesia selama satu tahun penuh.
Denny menjelaskan, kekuatan dari sebuah film animasi sebenarnya adalah “character design”. Sebuah karakter animasi bisa sangat terkenal dan berumur jauh lebih panjang dari umur pembuatnya karena karakter desain. Contohnya Mickey Mouse dengan penciptanya Walt Disney yang sudah meninggal.
“Dalam industri animasi, yang paling penting adalah unsur kreatifnya, tahap pre Production, karena di situ terdapat script, storyboard, background design, dan character design,” jelas Denny.
Namun, saat ini perkembangan industri kreatif animasi masih menemui kendala. Denny menuturkan, kendala paling utama adalah persaingan harga produksi animasi lokal dan produk impor. Selain itu, kurangnya kesempatan penayangan dari produk animasi lokal secara nasional lewat media TV juga masih minim.
“Generasi muda kita saat ini adalah generasi yang tumbuh kembang dengan budaya asing, dan malah asing dengan budaya lokalnya sendiri,” keluh Dosen Animasi di Binus University ini. Menurutnya, Indonesia tercatat sebagai konsumen terbaik bagi produsen animasi mancanegara. Dan sekaligus sebagai produsen terburuk karena tidak pernah berhasil tampil di negara sendiri dalam bentuk serial animasi lokal.
“Saatnya pemerintah, stasiun televisi, animasi lokal, dan masyarakat ikut mendorong industri animasi lokal,” papar Denny. Contohnya Kabayan dan Liplap yang bisa ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta nasional. Ini merupakan bagian dari penghargaan terhadap produksi dalam negeri sekaligus pelestarian budaya lokal.
Seperti kata Pak Raden, “Si Unyil tidak boleh berhidung mancung layaknya pemain sinetron atau telenovela, sebaliknya dia memang berhidung pesek, dan berpipi tembem, karena itulah anak Indonesia, ha..ha..ha..”. [Ria]















