Google Inc Rambah Bisnis Energi
March 2, 2010 by arif haryanto
Google memang perusahaan yang bisa dikatakan sebagai perusahaan multiproduct. Setelah “berdagang” ponsel Nexus One - yang jelas-jelas adalah bisnis di luar core bisnisnya selama ini - kini perusahaan mesin pencari ini mencari “mesin uang” baru, dengan membentuk Google Energy. Anak perusahaan Google yang satu ini bergerak dalam bidang bisnis yang mungkin cukup mengherankan, yaitu membeli dan menjual listrik dalam jumlah yang besar.
Pada bulan Januari 2010 lalu, Google mengajukan permintaan kepada Federal Energy Regulatory Commission (FERC) di Amerika untuk memasuki pasar energi. Hal ini disambut baik oleh pihak pemerintah, dan Google dengan cepat mendapatkan izin untuk membeli dan menjual kembali energi (listrik) secara grosir. Nampaknya perusahaan ternama ini optimis bisnis barunya akan berjalan dengan lancar, dengan mengusung misi fleksibilitas dalam menciptakan energi netral karbon. Saat ini Google nampaknya sedang menimbang-nimbang untuk membidik pasar yang akan dimasukinya, apakah bisnis energi ini akan ditawarkan pada perusahaan-perusahaan utilitas yang ada atau malah membidik konsumen rumah tangga.
Selain itu, Google juga sedang mengembangkan cermin dengan biaya rendah untuk digunakan pada panel surya. Juga proyek PowerMeter Google yang memungkinkan pengguna mengontrol penggunaan listrik sepanjang mereka memiliki peralatan yang memadai untuk mengunggah data. Nampaknya hal ini semakin menambah bagian portofolio Google sebagai prestasi yang ditempuh perusahaan yang berdiri sejak 4 September 1998 ini. Google telah memperluas jangkauannya dihampir setiap jenis layanan web ke dalam dunia smart phone, memiliki rencana untuk memasuki bisnis Internet Service Provider (ISP), mengembangkan Operating System (OS) untuk netbook, dan yang kini tersirat adalah kemungkinan untuk mengembangkan bisnis listrik dan masuk ke pasaran.
Namun sejauh ini, walaupun sudah mengantongi izin dari pemerintah Amerika, bisnis yang dipercaya akan mendapat sambutan baik ini masih belum menunjukkan tanda-tanda untuk cepat-cepat melakukan kegiatan jual beli listrik dan memasarkan produk barunya ini kepada konsumen. Mungkin kini hanya tinggal menunggu waktu yang tepat dan strategi yang matang agar bisnis ini bisa berjalan dengan lancar, layaknya produk-produk Google yang diluncurkan sebelumnya seperti search engine (Google.com), ponsel (Nexus One), OS pada ponsel, browser (Google Chrome), layanan email (Gmail), program virtual globe (Google Earth), Google Translate, Google Video, Google Docs, dan masih banyak lagi. [Syarifah Sahnath Assiry]















