Kabar Baik untuk Tuna Netra dari MLM for the Blind
August 11, 2009 by feby_khesa
Teknologi bisa memudahkan segalanya. Termasuk orang-orang dengan keterbatasan fisik yang ingin menggunakannya. Khusus untuk para tuna netra, salah satu alat penghubung mereka dengan dunia luar adalah dengan huruf braille. Produk dalam negeri pun ikut andil dalam memproduksinya. Salah satunya adalah MLM for the Blind.
MLM for the Blind kependekan dari My Learning Module for the Blind, yaitu sebuah alat media baca elektronik untuk para tuna netra yang beroperasi tanpa komputer (stand alone). Erik Taurini Chandra dan dua orang temannya menciptakan alat ini untuk kebutuhan tugas akhir mereka di Jurusan Sistem Komputer, Universitas Bina Nusantara. Terbatasnya jumlah alat cetak khusus braille di Indonesia dan tebalnya kertas untuk mencetak huruf braille (120 gram) membuat Erik ingin menciptakan sebuah alat yang sederhana namun bisa efektif penggunaannya.
“Misalnya saja buku Harry Potter. Saat manusia normal sudah tamat membacanya, tuna netra baru bisa menikmati novel tersebut tiga tahun kemudian karena lamanya pengerjaan mencetak huruf braille,” ucap Erik.
MLM for the Blind terdiri dari tombol input, 42 braille cells, buzzer dan Multi Media Card (MMC). Tombol input digunakan untuk memilih judul, membuka bacaan menampilkan baris bacaan serta input halaman bacaan. 42 braille cells akan menampilkan karakter braille. Dua karakter pertama akan menampilkan baris bacaan dan 40 karakter lainnya merupakan isi bacaan yang ditampilkan. Sedangkan buzzer digunakan untuk memberikan pesan kesalahan pada pengguna. Data yang bisa dibaca oleh alat ini melalui MMC yaitu dalam bentuk textfiles (*.txt).
Alumnus Binus angkatan 2005 ini juga mengungkapkan bahwa alat yang ada seperti MLM for the Blind merupakan produk dari luar negeri. Karena bukan produksi dalam negeri maka harganya sangat mahal dan penggunanya harus mempelajari dulu alat ini, sedangkan MLM for the Blind tidak perlu karena penggunaannya hanya mengandalkan MMC saja.
“Dengan adanya alat ini, para pengguna yang belum pernah memakainya pun langsung bisa mengoperasikannya, lagipula ini adalah produk lokal. Selain murah, juga bisa memajukan industri dalam negeri,” tutur Erik, yang ditemui pada saat pameran nominator Indonesia ICT Award (INAICTA 2009) 29 Juli lalu.
Untuk itu, Erik bekerja sama dengan Yayasan Mitra Netra, sebuah lembaga nirlaba yang memusatkan programnya pada upaya meningkatkan kualitas dan partisipasi tunanetra di bidang pendidikan dan lapangan kerja. Saat mengenalkan MLM for the Blind di sana, para penyandang tunanetra tersebut menyambutnya sangat baik.
“Atensi dari mereka (tunenetra-red) sangat antusias. Apalagi sebagian dari mereka tidak mengenyam pendidikan yang layak sedangkan fasilitas yang ada juga mahal. Saya tidak ingin tunanetra dipandang sebelah mata lagi. Dengan adanya alat ini, maka mereka tidak tertinggal oleh orang yang normal,” ucap Erik.
MLM for the Blind masuk dalam nominasi INAICTA 2009 kategori ‘e-Learning’. Saat Malam Penganugerahan lalu (29/7), produk ini mendapatkan gelar Special Mention, yaitu bentuk penghargaan tersendiri dari juri yang penilaiannya tidak bisa diganggu gugat.
Dengan MLM for the Blind, penggunaan buku braille dapat dikurangi, sehingga proses penrcetakan buku braille yang memakan waktu lama dapat dihindari. Bentuk bacaan dalam digital juga memungkinkan bacaan dapat lebih mudah untuk diperbanyak dan didistribusikan. [Feby]















