Malaria Datang, MOSES Beraksi
June 1, 2009 by ria
Bayangkan 100 juta manusia terjangkit malaria setiap harinya. Sekitar satu persen diantaranya berakhir fatal. Berapa banyak manusia lagi yang akan terjangkit penyakit mematikan ini? Kepedulian inilah awal dari ide pembuatan MOSES.
MOSES atau Malaria Observation System and Endemic Surveillance merupakan gabungan software dan hardware yang terintegrasi untuk memerangi penyakit malaria. Penyakit tropis yang paling berbahaya menurut PBB ini sering menjangkit negara berkembang seperti Indonesia. Sebagian solusi hanya berkutat di perkotaan, bagaimana dengan pedesaan atau pelosok negeri lainnya?
Gabungan software dan hardware ini memungkinkan seorang pasien yang tinggal di daerah pedesaan mendapatkan pelayanan kesehatan dan diagnosis dokter yang terletak di kota besar. Inovasi karya David Samuel dan rekan-rekannya ini juga merancang perangkat keras untuk melakukan pemeriksaan laboratorium.
Tak hanya itu, MOSES juga dilengkapi aplikasi pemetaan yang memudahkan pemerintah melakukan studi episdemologis terhadap penyakit tertentu sesuai sejarah dan kondisi geografisnya. Dengan ini, seorang dokter di kota bisa memberikan dosis obat yang sesuai dan cara perawatan yang benar terhadap pasien.
“Software ini dibuat untuk mengatasi masalah penyebaran tenaga medis yang tidak merata, sehingga banyak masyarakat di daerah terpencil tidak mendapat pelayanan kesehatan yang layak,” ujar David, salah satu anggota Tim Big Bang Imagine Cup 2009.
Karya yang mendapat apresiasi lewat Imagine Cup 2009 sebagai juara pertama ini tidak hanya bisa diimplementasikan di Indonesia. Negara berkembang lainnya, dengan kasus yang sama bisa mengunakan produk ini.
“Software ini bisa menerima data pasien dan data umum seperti umur, berat badan, dan tinggi badan. Lalu dengan perangkat keras yang telah dirancang, kondisi fisik seperti suhu tubuh, tekanan darah, dan detak jantung akan dimonitor secara otomatis,” jelas David, mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.
Khusus untuk malaria, tambah David, peralatan tersebut dilengkapi dengan handphone berkamera dengan lensa mikroskop dengan perbesaran hingga 1000 kali. Perangkat handphone yang dilengkapi dengan fitur mikroskopis juga merupakan sebuah riset yang sekarang sedang dikembangkan untuk dapat membantu penelitian mikroskopis, terutama di daerah yang kekurangan tenaga medis. Pengaplikasian sistem ini juga akan menghemat 30.9% dalam enam bulan dari biaya yang harus dikeluarkan ketika harus mengirimkan dokter dan tenaga ahli ke daerah terpencil.
Rencananya, MOSES akan dikembangakan di bawah bimbingan Dirjen Aplikasi Telematika Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo). “Mereka (Depkominfo) sangat antusias dan berusaha membantu sehingga kami dapat mempersiapkan software ini untuk dapat bersaing dengan negara lain di ajang kompetisi tingkat dunia 3 Juli nanti di Mesir,” tutur David.
Saat ini, software baru memasuki tahap prototipe. Diharapkan software ini bisa diintegrasikan dengan pihak Dinas Kesehatan untuk membantu memantau dan mengawasi perkembangan penyakit menular dan berbahaya.
“Kami percaya bahwa Indonesia sangat potensial untuk memajukan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), bahkan dapat menjadi salah satu Negara besar dalam hal ini. Akan tetapi seperti layaknya bayi yang baru belajar merangkak, perlu dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, sehingga bayi ini kelak dapat tumbuh dan menjadi salah satu tulang punggung industri kreatif yang memberikan efek kemajuan bangsa,” tandas David. [Ria]















