Bukan di Indonesia saja yang mengalami kesenjangan digital (digital divide). Bahkan di negara sebesar Amerika Serikat pun, tidak semua orang mempunyai akses mudah ke internet.
Internet adalah mesin yang bertumbuh dengan pesat dan menurut hasil penelitian McKinsey, internet menyumbang 21 persen dari pertumbuhan industri di negara-negara maju, termasuk AS. Melebihi industri energi, pertanian dan pertambangan.
Tetapi para pengguna internet di AS sendiri merasakan bahwa, dibandingkan negara maju lainnya di Eropa, layanan internet AS lebih mahal dan kecepatannya lebih lambat. Saat ini AS hanya menempati urutan ke 12 dalam daftar negara dengan penetrasi broadband terbesar di dunia.
Dalam infografik OnlineITdegree disebutkan bahwa ada tiga fakta utama: Pertama adanya kesenjangan luas antara akses di kota dan di pedesaan. Di daerah pedesaan AS, hanya sepersepuluh rumah yang memiliki akses internet broadband.
Kedua kesenjangan rasial dalam memperoleh akses. Setidaknya ada 72 persen Kaukasian yang memiliki akses ke internet. Namun hanya 57 persen Hispanik dan hanya 55 persen orang berkulit hitam memiliki akses yang sama.
Ketiga adalah perbedaan mencolok antara si kaya dan si miskin dalam sisi pengaruh dalam akses. Sekitar 46 persen rumah tangga miskin di AS tidak memiliki komputer dan tidak bisa mengakses internet. Sedangkan hanya 4 persen dari rumah tangga kaya yang seperti itu.
Ternyata dibandingkan dengan negara maju lainnya, AS tertinggal jauh dalam teknologi internet, kecepatan broadband dan akses. Pengguna internet AS pun membayar lebih mahal.
OnlineITdegree menyebutkan, mereka harus membayar 2,5 kali lipat lebih banyak dibandingkan di Belanda, lima kali lipat di Prancis dan enam kali lipat tarif internet di Hong Kong.
